Senin, 07 Juli 2014

Catatan Seorang Ayah….

Catatan Seorang Ayah….

oleh Khalilah Ulfah Mariah 'Arief' pada 8 Januari 2013 pukul 10:23 ·

Putriku adalah permataku…

Tahukah kalian kenapa aku menyebutnya begitu?
Dulu sebelum menikah dengan istriku, aku telah banyak mempersiapkan diri. Mulai dari membaca buku bagaimana menjadi suami yang baik dan bertanggungjawab hingga bagaiman menjadi seorang ayah yang baik untuk anak-anakku kelak.


Ketika aku sudah menikah, memang banyak ilmu dari buku-buku itu yang kuterapkan tapi ternyata ada hal-hal tidak terduga yang justru mendapat pelajaran baru. Begitu pula ketika aku akan akan segera punya anak.

Kata orangtua dan mertuaku, anak adalah amanah dan titipan Tuhan yang kadang tidak semua orang mendapatkan kesempatan itu. Jika Tuhan sudah mau menitipkan sesuatu pada manusia, maka berbahagialah bahwa artinya Tuhan sangat mempercayaimu untuk menjaga titipanNya itu. Saat istriku hamil, aku merasa menjadi manusia paling bahagia di dunia. Selama kehamilannya itu, aku senantiasa menjaga dan mengingatkannya agar kesehatannya selalu dalam keadaan baik dan sehat.

Ketika istriku akan melahirkan, tak sedetikpun aku meninggalkannya. Kupegang tangan istriku dan seolah mentransfer kekuatanku untuknya agar ia bertahan. Bibirku tak henti menyebut namaNya, begitu pula istriku. Hingga akhirnya perjuangan kami membuahkan hasil yang luar biasa. Putri kami lahir dengan selamat, sebenarnya aku adalah lelaki yang hidup di lingkungan keras, aku bahkan masih bisa menghitung dengan jari kapan saja aku ada menangis. Tapi ketika putriku lahir, kekerasan diriku lebur seketika, mungkin itulah kali pertama aku mengeluarkan banyak airmata, hingga mataku bengkak saat melihat putri mungilku yang cantik dan masih merah. Matanya masih tertutup rapat meski tangisannya amat keras.

Kuraih putriku itu dan sambil membisikkan lirih ditelinganya…ya…adzan yang begitu membesarkan namaNya kubisikkan agar kelak putriku terbiasa mendengar tiap kalimatNya…
Putri kecilku….sepenuh jiwa dan raga kujaga dia…

Aku begitu mencintainya….tapi aku tak pernah memanjakannya. Aku bahkan ingat hanya pernah membelikan 2 boneka untuk putri kecilku. Aku tak mau dia terbuai dengan mainan-mainan yang melalaikan. Justru aku ingin sedari kecil dia lebih akrab dengan cerita-cerita wanita sholehah di zaman Nabi. Kuajarkan dia sholat dan mengaji. Tiap waktunya yang kosong selalu kuisi dengan mengajaknya berbicara tentang isi pikirannya dan menguji kefokusannya tentang cerita shahabiyah yang sering kuceritakan.
Menjelang dewasa, putri kecilku telah banyak berubah. aku masih ingat saat dia berlari ke arahku dan berkata bahwa dia sudah mengalami haid. Kupeluk putriku sambil tersenyum dan mengatakan bahwa kini dia telah dewasa. Mungkin orangtua lain akan takut ketika putri mereka telah mengalami masa haid pertama. Tapi aku berusaha untuk tak sibuk dalam ketakutan itu melainkan mengisinya dengan semakin membekali putriku agar ia punya kekuatan menjaga dirinya sendiri. Aku tak pernah mengekang setiap kegiatannya, aku pun tak pernah was-was ketika dia berada diluar rumah dan aku tak berada di sisinya, hanya satu yang aku tekankan padanya bahwa apapun yang dia lakukan, Allah akan selalu melihatnya…kutanamkan hal pertama padanya yaitu MALU….

Kini…putriku sudah semakin dewasa, aku tahu masih ada kewajiban terakhir yang harus aku tunaikan sebagai ayahnya. Ya…menikahkan putriku dengan seorang lelaki untuk menyempurnakan agamanya dan menyempurnakan kewajibanku sebagai ayah. Sungguh…andai saja boleh aku ingin selamanya menjaga putriku, tapi aku tahu kewajiban ini harus aku lakukan.
Sungguh, aku pun bingung mencari lelaki yang pantas untuk putriku. Aku ingin mencari seorang lelaki yang akan memperlakukan putriku jauh lebih baik dari perlakuanku selama ini. Putriku teramat berharga untuk kuberikan begitu saja pada yang memintanya, Tidak..!

Aku tak butuh lelaki kaya yang dengan hartanya akan bisa membuat putriku bahagia, sedangkan aku yang tak banyak harta saja masih bisa membuat putriku selalu tersenyum…

Aku tak butuh lelaki yang punya jabatan bagus untuk membuat putriku bak permaisuri, sedangkan aku yang hanya lelaki biasa sudah bisa membuat putriku seolah satu-satunya bidadari di dunia ini…

Aku juga tak butuh lelaki tampan dan mengatakan akan memberikan semua cintanya pada putriku, karena aku mengajarkan pada putriku untuk membagi cintanya sesuai porsi masing-masing dimana porsi cinta untuk Tuhan adalah segalanya…

Tapi…
Aku hanya butuh seorang lelaki yang akan mau menjaga putriku sebagaimana aku menjaganya selama ini…

Aku butuh seorang lelaki yang akan memperlakukan putriku bak permata sebagaimana aku memperlakukan putriku sebagai sesuatu yang amat berharga….

Aku butuh seorang lelaki yang akan bisa memahami putriku sebagaimana aku bisa memahami putriku saat dia diam, saat dia tersenyum tak biasa, saat dia sedih atau saat dia hanya ingin sendiri…

Entah dimana akan kutemukan lelaki seperti itu yang bisa aku percaya untuk menggantikan tugasku sebagai ayah dari putriku….tapi aku percaya, suatu hari nanti Tuhan akan memindahtangankan titipanNya itu dariku kepada orang lain yang telah ditetapkan olehNya….